Setelah perjalanan mengelilingi jalur perdagangan rempah di Nusantara, akhirnya EP pertama Mow Ray yang bertajuk Swara Bilik Rempah dirampungkan dengan konsep suara dari bilik sendiri menggunakan apa saja yang ada di dalam kamarnya (rujuk cover EP). Idealisme merekam dengan ensemble besar dalam studio dan peralatan yang memadai ternyata bukan satu-satunya cara untuk berkarya. Hasil pertemuan dan perbincangan Mow Ray dengan para pelaku budaya menyadarkannya bahwa kosmopolis budaya alam nusantara lahir dari kepraktisan para pendahulu dalam berseni. Inovasi musik tradisi di Indonesia dalam sejarah menjadi bukti kearifan lokal leluhur menggunakan sumber daya yang ada disekitarnya untuk menyampaikan seni tutur turun temurun.
Terdiri dari
enam (6) lagu; Nona Lada, Mata Hati Rempah, Ini Jahe, Jalesveva, Kisah Tanah Nestapa, dan Tubo; merupakan ringkasan suara ‘Jalur Rempah’, yaitu suara kosmopolis budaya (musik pesisir) yang terbentuk di seluruh titik rempah atau pelabuhan besar nusantara. Jejak suara Portugis (Keroncong Tugu), Timur Tengah, dan Hindustan dapat ditemukan dalam EP ini. Khususnya ‘Tubo’ merupakan memori Musik Togal yang ditampilkan masyarakat saat ia berkunjung ke Desa Tubo di Ternate. Suara ini tentu melewati interpretasi Mow Ray dengan perjalanan musiknya sejak umur 7 tahun hingga kini yang dimulai dengan gitar klasik.
Kegemarannya dalam musik rock dan blues membuatnya tetap terbuka pada berbagai genre musik. Akhirnya, kecintaan pada budaya dan tradisi mengantarkannya kepada musik tradisi lewat dua genre yang pada awalnya tiada sangkut-paut: Jazz dan Bluegrass; dua musik yang ditekuninya selama satu tahun di Canada. Jazz mengantarkannya kepada Hindustani Classical Music karena fluiditas dan kebebasan dalam struktur yang sukar; serta memiliki jejak suara yang kuat pada musik pesisir nusantara. Bluegrass yang merupakan string-band mengantarkannya pada musik keroncong yang juga satu bentuk string-band dengan DNA musik Portugis didalamnya.
Sudah beberapa tahun ia menjadi pemain cabutan serta membentuk beberapa band dari masa kuliah. Sampai pada 2021 terbentuk kumpulan The Spice Route Ensemble yang tampil di Solo Keroncong Festival dengan lagu bertajuk ‘Celik’ bersama dua etnomusikolog senior Indonesia: Ubiet Raseuki dan Iwan Altajaru. Setelah itu Mow Ray memutuskan untuk mencoba berkarya sendiri. Diawali dengan single ‘Buang-Buang Masa’ yang menjadi soundtrack dalam sebuah film pendek karya Mario Irwinsyah ‘Masalah lu, Masa Lalu’.
Kedepanya arus balik kebudayaan musik Indonesia diharapkan dapat tercapai. Musik tradisi perlu menjadi variabel tetap dalam berkarya, bukan variabel bebas yang perlu disesuaikan dengan hegemoni musik barat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar