Halaman

    Social Items

Bagi kalian para penikmat lagu-lagu dari The Stone Roses, Happy Mondays, The Charlatans, atau New Order, kalian mungkin tidak asing dengan istilah madchester. Pergerakan kaum muda Inggris yang berpusat di kota Manchester ini menyeruak pada akhir tahun 80an. Istilah Madchester sendiri diambil dari judul EP oleh band Happy Mondays, "Madchester Rave On!" yang dirilis pada 1989 dan langsung diterima oleh kalangan media dan juga insan skena pada kala itu.

Awal Kemunculan

Penampilan Sex Pistols di Manchester

Manchester pada pertengahan 1970-an adalah kota yang tengah bergulat dengan perubahan sosial dan ekonomi. Penutupan pabrik-pabrik akibat deindustrialisasi meninggalkan banyak anak muda tanpa arah, sementara budaya musik arus utama dianggap monoton dan tidak relevan dengan kehidupan mereka. Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian ini, sebuah gerakan kecil namun berpengaruh mulai tumbuh, dipicu oleh dua malam bersejarah yang akan membentuk wajah musik alternatif di Manchester selama beberapa dekade berikutnya.




poster promosi konser Sex Pistols
Dua konser yang digelar oleh Sex Pistols di Manchester's Free Trade Hall pada Juni dan Juli 1976
 telah menjadi bagian legendaris dari sejarah musik kota tersebut. Meski dihadiri oleh jumlah penonton yang relatif kecil, pertunjukan ini dianggap sebagai katalis utama bagi lahirnya gerakan musik alternatif di Manchester. Narasi yang sering diulang menyebut bahwa pengalaman menyaksikan Sex Pistols menginspirasi banyak anak muda setempat untuk membentuk band mereka sendiri, membuka jalan bagi budaya musik Do-It-Yourself (DIY) yang revolusioner.





Bagi banyak penonton, konser ini menyampaikan pesan bahwa bakat formal atau pelatihan musik bukanlah syarat mutlak untuk menjadi musisi. Banyak orang yang menonton pertunjukan Sex Pistols di Free Trade Hall ini yang kemudian menjadi musisi dan membuat band. Morrisey, pentolan The Smiths hadir menyaksikan konser tersebut dan kemudian membuat tulisan untuk NME, Mark E Smith vokalis band The Fall, Howard Devoto dan Pete Shelley dari The Buzzcocks, Bernard Sumner dan Peter Hook dari Joy division, juga Tony Wilson dan Martin Hannett dari Factory Records.



Lebih dari sekadar acara musik, konser-konser ini juga berfungsi sebagai titik pertemuan bagi individu-individu yang memiliki hasrat yang sama terhadap sesuatu yang berbeda. Mereka yang hadir menemukan komunitas baru yang berbagi semangat untuk menciptakan ruang alternatif di luar budaya klub malam konvensional dan komersial. Dengan demikian, dua malam bersejarah ini tidak hanya menginspirasi munculnya band-band legendaris seperti Joy Division dan The Buzzcocks, tetapi juga memulai transformasi Manchester menjadi pusat inovasi budaya yang menjadi cikal bakal gerakan post-punk dan skena Madchester di tahun-tahun berikutnya.


Beralih dari Post-punk

Semenjak Margaret Thatcher menjabat sebagai perdana menteri Inggris (1979-1990), ia memberlakukan kebijakan neo-liberal atau yang dikenal dengan istilah thatcherism yang dianggap lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan menyudutkan kaum-kaum pekerja. Kondisi sosial ekonomi yang kelam pada saat itu memunculkan banyak musisi dan seniman yang mengekspresikan rasa kalut dan kekecewaannya kedalam karya-karya mereka. Hal ini pula yang terproyeksikan pada karakter musik gelap dan muram ala post-punk. 


panggung terakhir Joy Division, Jumat, 2 Mei 1980 di High Hall, Universitas Birmingham

Band-band post-punk dari Manchester, seperti Joy Division dan The Fall, membangun landasan dengan estetika gelap dan eksplorasi artistik mereka. Semangat eksperimental ini diwarisi oleh skena Madchester, tetapi dengan pendekatan yang lebih energik dan optimis. Setelah kematian Ian Curtis (vokalis Joy Division), sisa anggotanya membentuk New Order, yang memadukan elemen post-punk dengan musik dansa elektronik. New Order menjadi jembatan utama antara kedua era.

Seperti pada era post-punk, Manchester masih menghadapi dampak dari deindustrialisasi, tetapi generasi muda mulai melihat seni dan musik sebagai cara untuk merebut kembali identitas kota mereka. Madchester menawarkan pelarian dari realitas keras dengan menciptakan komunitas yang bersifat lebih meriah dan penuh energi positif dibandingkan dengan nada depresif post-punk.


Masuknya Pengaruh Acid House dan Budaya Rave

Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, musik acid house dari Chicago mulai masuk ke Inggris dan menginspirasi munculnya budaya rave. Suara elektronik yang hipnotis dan atmosfer pesta besar menjadi fenomena yang menyebar di seluruh negeri, termasuk di Manchester. Perayaan rave sering kali diiringi oleh penggunaan MDMA (ecstasy), yang menciptakan rasa persaudaraan, euforia, dan pelarian dari realitas sosial yang keras.

Pada musim panas 1988 hingga 1989 dikenal dengan "Second Summer of Love". Periode ini dianggap sebagai puncak dari revolusi budaya rave dan acid house di Inggris. Manchester menjadi salah satu pusatnya. Perayaan rave besar-besaran di lokasi terbuka dan gudang-gudang kosong menciptakan komunitas yang antusias terhadap budaya musik dansa.


Upaya Factory Records dalam Membentuk Skena Madchester

Mengorbitkan band-band lokal Manchester

Factory Records memberikan tempat bagi artis-artis lokal untuk berkembang tanpa tekanan komersial yang biasa ditemukan di label besar. Beberapa kontribusi penting Factory Records terhadap skena Madchester meliputi:

  • New Order: Setelah bubarnya Joy Division, New Order melanjutkan eksperimen musik post-punk dengan elemen elektronik. Lagu-lagu mereka, seperti "Blue Monday" (1983), menjadi pionir dalam menggabungkan musik dansa elektronik dengan sensibilitas rock.
  • Happy Mondays: Salah satu band yang paling ikonik di skena Madchester, mereka menciptakan perpaduan unik antara rock, funk, acid house, dan gaya jalanan Manchester. Album seperti Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) dirilis melalui Factory Records dan menjadi simbol energi Madchester.
  • A Certain Ratio: Band ini memperkenalkan gaya funk-punk yang kaya dengan ritme dansa, memengaruhi evolusi musik skena.

Membangun Klub Malam Sebagai Pusat Budaya Rave

Klub Malam Haçienda

Pada 1982 Factory Records membuka sebuah klub malam The Haçienda (FAC 51) dan sekaligus menjadi pusat penyebaran budaya rave. Klub ini memadukan musik dansa dengan suasana klub malam yang modern, memengaruhi estetika musik dan gaya hidup skena Madchester. Klub malam ini tidak hanya menjadi tempat dansa tetapi juga melahirkan band-band seperti Happy Mondays dan The Stone Roses.

Sosok-sosok Berpengaruh Dibalik Factory Records

Sosok-sosok dibalik Factory Records tentu sangat berpengaruh terhadap terbentuknya skena madchester. Beberapa sosok yang paling menonjol adalah Tony Wilson dan Martin Hannett.

  • Tony Wilson
    Tony Wilson
    merupakan pendiri sekaligus wajah dari Factory Records. Pada 1978, Ia bersama Alan Erasmus, Rob Gretton, Martin Hannett, dan Peter Saville menciptakan wadah bagi bakat-bakat yang ada di Inggris, khususnya Manchester. Memiliki latar belakang sebagai jurnalis dan presenter, Tony Wilson memanfaatkan berbagai platform media sebagai sarana mempromosikan skena lokal, membantu membangun reputasi Manchester sebagai pusat budaya kreatif.
  • Martin Hannett
    Sedangkan Martin Hannett, sebagai produser musik ia memainkan peran besar dalam membentuk suara unik dari artis Factory. Misalnya, ia menggunakan teknik produksi yang atmosferik dan inovatif untuk Joy Division, A Certain Ratio dan Happy Mondays. Gaya Hannett sering kali melibatkan manipulasi suara dengan efek yang menciptakan nuansa psikedelik dan introspektif.

    Meskipun kontribusinya besar, hubungan Hannett dengan Factory Records dan artis-artisnya tidak selalu harmonis. Beberapa band merasa frustrasi dengan gaya produksinya yang perfeksionis dan eksperimen teknis yang memakan waktu lama. Setelah merilis beberapa karya sukses, Hannett berkonflik dengan Tony Wilson dan meninggalkan Factory Records pada awal 1980-an. Hal ini membuatnya kurang terlibat secara langsung dalam puncak skena Madchester, meskipun pengaruhnya tetap terasa.

Puncak Kejayaan Madchester

Skena Madchester mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, dengan puncaknya sekitar tahun 1989-1991. Masa ini ditandai oleh beberapa peristiwa ikonik yang mempengaruhi kesuksesannya

Kesuksesan Komersial Band-Band Kunci

Madchester pada sampul majalah NME
Happy Mondays:
Album mereka, Bummed (1988), mulai menarik perhatian, tetapi Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) yang benar-benar membawa mereka ke arus utama. Lagu seperti Step On menjadi hit besar.

The Stone Roses: Album debut mereka, The Stone Roses (1989), dianggap sebagai salah satu album terpenting dalam sejarah musik Inggris, dengan lagu seperti I Wanna Be Adored dan Fools Gold menjadi ikon.

Inspiral Carpets: Band ini juga menarik perhatian dengan lagu-lagu seperti This Is How It Feels, yang menggabungkan elemen garage rock dengan estetika psychedelic.

Konser Spike Island oleh The Stone Roses (27 Mei 1990)

Konser Spike Island, yang digelar pada 27 Mei 1990 di Widnes, Cheshire, dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam skena Madchester. Diselenggarakan oleh The Stone Roses, acara ini sering disebut sebagai "Woodstock-nya Generasi Baggy" dengan dihadiri oleh sekitar 27.000 pengunjung. Konser tersebut menjadi simbol puncak popularitas Madchester, menegaskan kekuatan budaya musik ini sekaligus mencerminkan antusiasme generasi muda terhadap gerakan tersebut. Konser bersejarah ini direkonstruksi kedalam film karya sutradara Mat Whitecross berjudul Spike Island.

 

Top of The Pops


Sebagai salah satu acara musik paling penting di Inggris pada masanya, TOTP menawarkan platform yang memungkinkan band-band Madchester mencapai audiens yang jauh lebih luas, melampaui batasan komunitas lokal atau penggemar alternatif. Saat band seperti Happy Mondays, The Stone Roses, dan Inspiral Carpets tampil di acara ini, mereka tidak hanya menarik perhatian penggemar musik alternatif tetapi juga menjangkau audiens umum yang mungkin sebelumnya tidak akrab dengan musik mereka. Penampilan seperti Step On dari Happy Mondays dan This Is How It Feels dari Inspiral Carpets membantu menjadikan lagu-lagu tersebut hit nasional.

Band-band Madchester

Madchester yang berpusat di kota Manchester mencapai puncak ketenarannya pada peralihan dekade 80an ke 90an. Ketenaran skena ini menjalar ke beberapa kota lain di Inggris dan luar Inggris. Hal ini terbukti dengan munculnya band dan musisi dengan unsur-unsur yang serupa dengan madchester di kota-kota seperti London, Liverpool, Newcastle, bahkan hingga Skotlandia. Beberapa diantaranya adalah:

Band Inti Madchester

Happy Mondays

  1. The Stone Roses
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Fools Gold, I Wanna Be Adored
  2. Happy Mondays
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Step On, Kinky Afro
  3. Inspiral Carpets
    Asal: Oldham (dekat Manchester)
    Lagu hits: This Is How It Feels, She Comes in the Fall
  4. 808 State
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Pacific State, In Yer Face
  5. A Guy Called Gerald
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Voodoo Ray, Pacific

Band Pendukung Langsung

The Charlatans

  1. James
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Sit Down, Laid
  2. The Charlatans (UK)
    Asal: Northwich, Cheshire
    Lagu hits: The Only One I Know, Then
  3. Northside
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Shall We Take a Trip, Take 5
  4. Paris Angels
    Asal: Ashton-under-Lyne (dekat Manchester)
    Lagu hits: Perfume (All on You)
  5. The High
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Box Set Go, Up and Down
  6. New Fast Automatic Daffodils (New FADs)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Big, Fishes Eyes
  7. The Mock Turtles
    Asal: Middleton, Manchester
    Lagu hits: Can You Dig It?, And Then She Smiles

Band yang Terpengaruh atau Terkait dengan Madchester

The Soup Dragons

  1. Flowered Up
    Asal: London
    Lagu hits: It's On, Weekender
  2. The Soup Dragons
    Asal: Bellshill, Skotlandia
    Lagu hits: I'm Free, Divine Thing
  3. Primal Scream
    Asal: Glasgow, Skotlandia
    Lagu hits: Loaded, Movin' On Up
  4. Black Grape
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Reverend Black Grape, In the Name of the Father
  5. Candy Flip
    Asal: Stoke-on-Trent
    Lagu hits: Strawberry Fields Forever (cover)
  6. Sub Sub (kemudian menjadi Doves)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Ain't No Love (Ain't No Use)
  7. Intastella
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Dream Some Paradise
  8. The Farm
    Asal: Liverpool
    Lagu hits: All Together Now, Groovy Train
  9. World of Twist
    Asal: Manchester
    Lagu hits: The Storm, Sons of the Stage
  10. The Wendys
    Asal: Edinburgh, Skotlandia
    Lagu hits: Pulling My Fingers Off, I’ve Seen It All Before
  11. Electronic
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Getting Away with It, Disappointed

Berakhirnya Kemeriahan Madchester

Skena Madchester, yang mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, mengalami kemunduran yang cepat setelah 1991. Tren musik Britpop kemudian menggantikannya sebagai gerakan musik Inggris yang dominan.

Masalah Internal Band-Band Utama 

Pemberitaan Media terkait The Stone Roses
The Stone Roses menemui rintangan didalam karir setelah kesuksesan album debut mereka (1989). Mereka terlibat dalam sengketa hukum yang berkepanjangan dengan label rekaman Silvertone, yang menghentikan aktivitas mereka selama beberapa tahun. Album kedua mereka, Second Coming (1994) yang baru dirilis lima tahun kemudian gagal memenuhi ekspektasi kritikus serta penggemar. Selain itu, konflik internal band yang diperkeruh dengan keluarnya sang gitaris John Squire dan sang drummer Reni membuat kemunduran tak terelakkan.


Happy Mondays menghadapi masalah narkoba yang serius, yang memengaruhi produktivitas dan kinerja mereka. Album mereka Yes Please! (1992), direkam di tengah kondisi yang kacau di Barbados, menerima kritik buruk dan gagal secara komersial.

Kebangkrutan Factory Records dan The Haçienda

Label rekaman yang menjadi pusat dari skena Madchester bangkrut pada 1992 karena masalah keuangan, termasuk investasi besar pada proyek gagal seperti The Haçienda. Dengan hilangnya Factory Records, banyak band kehilangan dukungan logistik dan finansial untuk melanjutkan karier mereka. Faktor lain yang membuat kejatuhan Factory Records tak terelakkan adalah kebangkrutan klub malam The Haçienda. Klub legendaris The Haçienda mengalami masalah keuangan yang parah akibat pengelolaan yang buruk dan ketergantungan pada budaya pesta rave. Meningkatnya kekerasan dan kriminalitas terkait narkoba di The Haçienda pada awal 1990-an membuat reputasinya menurun. Klub ini akhirnya ditutup pada 1997.

Pergeseran Tren dan Selera Musik

Pada awal 1990-an, publik mulai merasa jenuh dengan estetika Madchester, yang sering dianggap terlalu terkait dengan pesta dan hedonisme. Musik grunge dari Amerika Serikat, dipopulerkan oleh band seperti Nirvana dan Pearl Jam, menarik perhatian besar pada awal dekade tersebut, menawarkan gaya yang lebih gelap dan introspektif dibandingkan energi santai Madchester.

Oasis, band britpop asal Manchester
Gerakan Britpop muncul pada pertengahan 1990-an, dengan band seperti Oasis, Blur, dan Pulp membawa fokus baru pada rock yang lebih melodik dan lirik yang mencerminkan kehidupan kelas pekerja Inggris. Oasis, yang berasal dari Manchester, sering dikaitkan dengan warisan Madchester tetapi dengan suara yang lebih sederhana dan pengaruh besar dari The Beatles. Album debut mereka, Definitely Maybe (1994), menjadi salah satu katalis utama kebangkitan Britpop. Keberadaan Britpop menarik perhatian media Inggris, terutama melalui majalah seperti NME dan Melody Maker, yang memposisikan Britpop sebagai kebangkitan musik Inggris dan alternatif dari warna musik grunge dari Amerika.


Mengenal Lebih Dalam Skena Madchester

Bagi kalian para penikmat lagu-lagu dari The Stone Roses, Happy Mondays, The Charlatans, atau New Order, kalian mungkin tidak asing dengan istilah madchester. Pergerakan kaum muda Inggris yang berpusat di kota Manchester ini menyeruak pada akhir tahun 80an. Istilah Madchester sendiri diambil dari judul EP oleh band Happy Mondays, "Madchester Rave On!" yang dirilis pada 1989 dan langsung diterima oleh kalangan media dan juga insan skena pada kala itu.

Awal Kemunculan

Penampilan Sex Pistols di Manchester

Manchester pada pertengahan 1970-an adalah kota yang tengah bergulat dengan perubahan sosial dan ekonomi. Penutupan pabrik-pabrik akibat deindustrialisasi meninggalkan banyak anak muda tanpa arah, sementara budaya musik arus utama dianggap monoton dan tidak relevan dengan kehidupan mereka. Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian ini, sebuah gerakan kecil namun berpengaruh mulai tumbuh, dipicu oleh dua malam bersejarah yang akan membentuk wajah musik alternatif di Manchester selama beberapa dekade berikutnya.




poster promosi konser Sex Pistols
Dua konser yang digelar oleh Sex Pistols di Manchester's Free Trade Hall pada Juni dan Juli 1976
 telah menjadi bagian legendaris dari sejarah musik kota tersebut. Meski dihadiri oleh jumlah penonton yang relatif kecil, pertunjukan ini dianggap sebagai katalis utama bagi lahirnya gerakan musik alternatif di Manchester. Narasi yang sering diulang menyebut bahwa pengalaman menyaksikan Sex Pistols menginspirasi banyak anak muda setempat untuk membentuk band mereka sendiri, membuka jalan bagi budaya musik Do-It-Yourself (DIY) yang revolusioner.





Bagi banyak penonton, konser ini menyampaikan pesan bahwa bakat formal atau pelatihan musik bukanlah syarat mutlak untuk menjadi musisi. Banyak orang yang menonton pertunjukan Sex Pistols di Free Trade Hall ini yang kemudian menjadi musisi dan membuat band. Morrisey, pentolan The Smiths hadir menyaksikan konser tersebut dan kemudian membuat tulisan untuk NME, Mark E Smith vokalis band The Fall, Howard Devoto dan Pete Shelley dari The Buzzcocks, Bernard Sumner dan Peter Hook dari Joy division, juga Tony Wilson dan Martin Hannett dari Factory Records.



Lebih dari sekadar acara musik, konser-konser ini juga berfungsi sebagai titik pertemuan bagi individu-individu yang memiliki hasrat yang sama terhadap sesuatu yang berbeda. Mereka yang hadir menemukan komunitas baru yang berbagi semangat untuk menciptakan ruang alternatif di luar budaya klub malam konvensional dan komersial. Dengan demikian, dua malam bersejarah ini tidak hanya menginspirasi munculnya band-band legendaris seperti Joy Division dan The Buzzcocks, tetapi juga memulai transformasi Manchester menjadi pusat inovasi budaya yang menjadi cikal bakal gerakan post-punk dan skena Madchester di tahun-tahun berikutnya.


Beralih dari Post-punk

Semenjak Margaret Thatcher menjabat sebagai perdana menteri Inggris (1979-1990), ia memberlakukan kebijakan neo-liberal atau yang dikenal dengan istilah thatcherism yang dianggap lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan menyudutkan kaum-kaum pekerja. Kondisi sosial ekonomi yang kelam pada saat itu memunculkan banyak musisi dan seniman yang mengekspresikan rasa kalut dan kekecewaannya kedalam karya-karya mereka. Hal ini pula yang terproyeksikan pada karakter musik gelap dan muram ala post-punk. 


panggung terakhir Joy Division, Jumat, 2 Mei 1980 di High Hall, Universitas Birmingham

Band-band post-punk dari Manchester, seperti Joy Division dan The Fall, membangun landasan dengan estetika gelap dan eksplorasi artistik mereka. Semangat eksperimental ini diwarisi oleh skena Madchester, tetapi dengan pendekatan yang lebih energik dan optimis. Setelah kematian Ian Curtis (vokalis Joy Division), sisa anggotanya membentuk New Order, yang memadukan elemen post-punk dengan musik dansa elektronik. New Order menjadi jembatan utama antara kedua era.

Seperti pada era post-punk, Manchester masih menghadapi dampak dari deindustrialisasi, tetapi generasi muda mulai melihat seni dan musik sebagai cara untuk merebut kembali identitas kota mereka. Madchester menawarkan pelarian dari realitas keras dengan menciptakan komunitas yang bersifat lebih meriah dan penuh energi positif dibandingkan dengan nada depresif post-punk.


Masuknya Pengaruh Acid House dan Budaya Rave

Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, musik acid house dari Chicago mulai masuk ke Inggris dan menginspirasi munculnya budaya rave. Suara elektronik yang hipnotis dan atmosfer pesta besar menjadi fenomena yang menyebar di seluruh negeri, termasuk di Manchester. Perayaan rave sering kali diiringi oleh penggunaan MDMA (ecstasy), yang menciptakan rasa persaudaraan, euforia, dan pelarian dari realitas sosial yang keras.

Pada musim panas 1988 hingga 1989 dikenal dengan "Second Summer of Love". Periode ini dianggap sebagai puncak dari revolusi budaya rave dan acid house di Inggris. Manchester menjadi salah satu pusatnya. Perayaan rave besar-besaran di lokasi terbuka dan gudang-gudang kosong menciptakan komunitas yang antusias terhadap budaya musik dansa.


Upaya Factory Records dalam Membentuk Skena Madchester

Mengorbitkan band-band lokal Manchester

Factory Records memberikan tempat bagi artis-artis lokal untuk berkembang tanpa tekanan komersial yang biasa ditemukan di label besar. Beberapa kontribusi penting Factory Records terhadap skena Madchester meliputi:

  • New Order: Setelah bubarnya Joy Division, New Order melanjutkan eksperimen musik post-punk dengan elemen elektronik. Lagu-lagu mereka, seperti "Blue Monday" (1983), menjadi pionir dalam menggabungkan musik dansa elektronik dengan sensibilitas rock.
  • Happy Mondays: Salah satu band yang paling ikonik di skena Madchester, mereka menciptakan perpaduan unik antara rock, funk, acid house, dan gaya jalanan Manchester. Album seperti Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) dirilis melalui Factory Records dan menjadi simbol energi Madchester.
  • A Certain Ratio: Band ini memperkenalkan gaya funk-punk yang kaya dengan ritme dansa, memengaruhi evolusi musik skena.

Membangun Klub Malam Sebagai Pusat Budaya Rave

Klub Malam Haçienda

Pada 1982 Factory Records membuka sebuah klub malam The Haçienda (FAC 51) dan sekaligus menjadi pusat penyebaran budaya rave. Klub ini memadukan musik dansa dengan suasana klub malam yang modern, memengaruhi estetika musik dan gaya hidup skena Madchester. Klub malam ini tidak hanya menjadi tempat dansa tetapi juga melahirkan band-band seperti Happy Mondays dan The Stone Roses.

Sosok-sosok Berpengaruh Dibalik Factory Records

Sosok-sosok dibalik Factory Records tentu sangat berpengaruh terhadap terbentuknya skena madchester. Beberapa sosok yang paling menonjol adalah Tony Wilson dan Martin Hannett.

  • Tony Wilson
    Tony Wilson
    merupakan pendiri sekaligus wajah dari Factory Records. Pada 1978, Ia bersama Alan Erasmus, Rob Gretton, Martin Hannett, dan Peter Saville menciptakan wadah bagi bakat-bakat yang ada di Inggris, khususnya Manchester. Memiliki latar belakang sebagai jurnalis dan presenter, Tony Wilson memanfaatkan berbagai platform media sebagai sarana mempromosikan skena lokal, membantu membangun reputasi Manchester sebagai pusat budaya kreatif.
  • Martin Hannett
    Sedangkan Martin Hannett, sebagai produser musik ia memainkan peran besar dalam membentuk suara unik dari artis Factory. Misalnya, ia menggunakan teknik produksi yang atmosferik dan inovatif untuk Joy Division, A Certain Ratio dan Happy Mondays. Gaya Hannett sering kali melibatkan manipulasi suara dengan efek yang menciptakan nuansa psikedelik dan introspektif.

    Meskipun kontribusinya besar, hubungan Hannett dengan Factory Records dan artis-artisnya tidak selalu harmonis. Beberapa band merasa frustrasi dengan gaya produksinya yang perfeksionis dan eksperimen teknis yang memakan waktu lama. Setelah merilis beberapa karya sukses, Hannett berkonflik dengan Tony Wilson dan meninggalkan Factory Records pada awal 1980-an. Hal ini membuatnya kurang terlibat secara langsung dalam puncak skena Madchester, meskipun pengaruhnya tetap terasa.

Puncak Kejayaan Madchester

Skena Madchester mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, dengan puncaknya sekitar tahun 1989-1991. Masa ini ditandai oleh beberapa peristiwa ikonik yang mempengaruhi kesuksesannya

Kesuksesan Komersial Band-Band Kunci

Madchester pada sampul majalah NME
Happy Mondays:
Album mereka, Bummed (1988), mulai menarik perhatian, tetapi Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) yang benar-benar membawa mereka ke arus utama. Lagu seperti Step On menjadi hit besar.

The Stone Roses: Album debut mereka, The Stone Roses (1989), dianggap sebagai salah satu album terpenting dalam sejarah musik Inggris, dengan lagu seperti I Wanna Be Adored dan Fools Gold menjadi ikon.

Inspiral Carpets: Band ini juga menarik perhatian dengan lagu-lagu seperti This Is How It Feels, yang menggabungkan elemen garage rock dengan estetika psychedelic.

Konser Spike Island oleh The Stone Roses (27 Mei 1990)

Konser Spike Island, yang digelar pada 27 Mei 1990 di Widnes, Cheshire, dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam skena Madchester. Diselenggarakan oleh The Stone Roses, acara ini sering disebut sebagai "Woodstock-nya Generasi Baggy" dengan dihadiri oleh sekitar 27.000 pengunjung. Konser tersebut menjadi simbol puncak popularitas Madchester, menegaskan kekuatan budaya musik ini sekaligus mencerminkan antusiasme generasi muda terhadap gerakan tersebut. Konser bersejarah ini direkonstruksi kedalam film karya sutradara Mat Whitecross berjudul Spike Island.

 

Top of The Pops


Sebagai salah satu acara musik paling penting di Inggris pada masanya, TOTP menawarkan platform yang memungkinkan band-band Madchester mencapai audiens yang jauh lebih luas, melampaui batasan komunitas lokal atau penggemar alternatif. Saat band seperti Happy Mondays, The Stone Roses, dan Inspiral Carpets tampil di acara ini, mereka tidak hanya menarik perhatian penggemar musik alternatif tetapi juga menjangkau audiens umum yang mungkin sebelumnya tidak akrab dengan musik mereka. Penampilan seperti Step On dari Happy Mondays dan This Is How It Feels dari Inspiral Carpets membantu menjadikan lagu-lagu tersebut hit nasional.

Band-band Madchester

Madchester yang berpusat di kota Manchester mencapai puncak ketenarannya pada peralihan dekade 80an ke 90an. Ketenaran skena ini menjalar ke beberapa kota lain di Inggris dan luar Inggris. Hal ini terbukti dengan munculnya band dan musisi dengan unsur-unsur yang serupa dengan madchester di kota-kota seperti London, Liverpool, Newcastle, bahkan hingga Skotlandia. Beberapa diantaranya adalah:

Band Inti Madchester

Happy Mondays

  1. The Stone Roses
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Fools Gold, I Wanna Be Adored
  2. Happy Mondays
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Step On, Kinky Afro
  3. Inspiral Carpets
    Asal: Oldham (dekat Manchester)
    Lagu hits: This Is How It Feels, She Comes in the Fall
  4. 808 State
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Pacific State, In Yer Face
  5. A Guy Called Gerald
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Voodoo Ray, Pacific

Band Pendukung Langsung

The Charlatans

  1. James
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Sit Down, Laid
  2. The Charlatans (UK)
    Asal: Northwich, Cheshire
    Lagu hits: The Only One I Know, Then
  3. Northside
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Shall We Take a Trip, Take 5
  4. Paris Angels
    Asal: Ashton-under-Lyne (dekat Manchester)
    Lagu hits: Perfume (All on You)
  5. The High
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Box Set Go, Up and Down
  6. New Fast Automatic Daffodils (New FADs)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Big, Fishes Eyes
  7. The Mock Turtles
    Asal: Middleton, Manchester
    Lagu hits: Can You Dig It?, And Then She Smiles

Band yang Terpengaruh atau Terkait dengan Madchester

The Soup Dragons

  1. Flowered Up
    Asal: London
    Lagu hits: It's On, Weekender
  2. The Soup Dragons
    Asal: Bellshill, Skotlandia
    Lagu hits: I'm Free, Divine Thing
  3. Primal Scream
    Asal: Glasgow, Skotlandia
    Lagu hits: Loaded, Movin' On Up
  4. Black Grape
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Reverend Black Grape, In the Name of the Father
  5. Candy Flip
    Asal: Stoke-on-Trent
    Lagu hits: Strawberry Fields Forever (cover)
  6. Sub Sub (kemudian menjadi Doves)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Ain't No Love (Ain't No Use)
  7. Intastella
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Dream Some Paradise
  8. The Farm
    Asal: Liverpool
    Lagu hits: All Together Now, Groovy Train
  9. World of Twist
    Asal: Manchester
    Lagu hits: The Storm, Sons of the Stage
  10. The Wendys
    Asal: Edinburgh, Skotlandia
    Lagu hits: Pulling My Fingers Off, I’ve Seen It All Before
  11. Electronic
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Getting Away with It, Disappointed

Berakhirnya Kemeriahan Madchester

Skena Madchester, yang mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, mengalami kemunduran yang cepat setelah 1991. Tren musik Britpop kemudian menggantikannya sebagai gerakan musik Inggris yang dominan.

Masalah Internal Band-Band Utama 

Pemberitaan Media terkait The Stone Roses
The Stone Roses menemui rintangan didalam karir setelah kesuksesan album debut mereka (1989). Mereka terlibat dalam sengketa hukum yang berkepanjangan dengan label rekaman Silvertone, yang menghentikan aktivitas mereka selama beberapa tahun. Album kedua mereka, Second Coming (1994) yang baru dirilis lima tahun kemudian gagal memenuhi ekspektasi kritikus serta penggemar. Selain itu, konflik internal band yang diperkeruh dengan keluarnya sang gitaris John Squire dan sang drummer Reni membuat kemunduran tak terelakkan.


Happy Mondays menghadapi masalah narkoba yang serius, yang memengaruhi produktivitas dan kinerja mereka. Album mereka Yes Please! (1992), direkam di tengah kondisi yang kacau di Barbados, menerima kritik buruk dan gagal secara komersial.

Kebangkrutan Factory Records dan The Haçienda

Label rekaman yang menjadi pusat dari skena Madchester bangkrut pada 1992 karena masalah keuangan, termasuk investasi besar pada proyek gagal seperti The Haçienda. Dengan hilangnya Factory Records, banyak band kehilangan dukungan logistik dan finansial untuk melanjutkan karier mereka. Faktor lain yang membuat kejatuhan Factory Records tak terelakkan adalah kebangkrutan klub malam The Haçienda. Klub legendaris The Haçienda mengalami masalah keuangan yang parah akibat pengelolaan yang buruk dan ketergantungan pada budaya pesta rave. Meningkatnya kekerasan dan kriminalitas terkait narkoba di The Haçienda pada awal 1990-an membuat reputasinya menurun. Klub ini akhirnya ditutup pada 1997.

Pergeseran Tren dan Selera Musik

Pada awal 1990-an, publik mulai merasa jenuh dengan estetika Madchester, yang sering dianggap terlalu terkait dengan pesta dan hedonisme. Musik grunge dari Amerika Serikat, dipopulerkan oleh band seperti Nirvana dan Pearl Jam, menarik perhatian besar pada awal dekade tersebut, menawarkan gaya yang lebih gelap dan introspektif dibandingkan energi santai Madchester.

Oasis, band britpop asal Manchester
Gerakan Britpop muncul pada pertengahan 1990-an, dengan band seperti Oasis, Blur, dan Pulp membawa fokus baru pada rock yang lebih melodik dan lirik yang mencerminkan kehidupan kelas pekerja Inggris. Oasis, yang berasal dari Manchester, sering dikaitkan dengan warisan Madchester tetapi dengan suara yang lebih sederhana dan pengaruh besar dari The Beatles. Album debut mereka, Definitely Maybe (1994), menjadi salah satu katalis utama kebangkitan Britpop. Keberadaan Britpop menarik perhatian media Inggris, terutama melalui majalah seperti NME dan Melody Maker, yang memposisikan Britpop sebagai kebangkitan musik Inggris dan alternatif dari warna musik grunge dari Amerika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar