Halaman

    Social Items


The Changcuters adalah salah satu band rock n roll Indonesia dengan identitas paling kuat—bukan hanya dari musik, tapi juga dari visual, attitude, dan konsistensi mereka sejak awal kemunculan. Perjalanan band ini dimulai dari tongkrongan sekolah hingga berkembang menjadi ikon di industri musik Indonesia.


Awal Karier The Changcuters: Dari Tongkrongan SMP

Ariel & Uki
Sebelum dikenal sebagai frontman The Changcuters, Muhammad Iqbal atau Qibil sudah lebih dulu aktif bermusik sejak SMP bersama Ariel NOAH dan Uki NOAH.

Memasuki masa SMA, formasi mereka berkembang dengan hadirnya Erick Nindyoastomo. Mereka kemudian membentuk band bernama Cholesterol, yang membawakan lagu-lagu dari Shed Seven, Menswear, hingga Placebo.

Erick Nindyoastomo

Band ini sempat tampil di beberapa gigs sebelum akhirnya hiatus—fase awal yang jadi fondasi penting perjalanan bermusik mereka.


Dari Cholesterol ke Arah Baru

Setelah Cholesterol bubar, Peterpan mulai terbentuk dari proyek band bernama Topi yang digawangi Ariel dan Uki.

Di sisi lain, Qibil memilih jalur berbeda dengan membentuk band The Grapes bersama Alda, membawakan lagu-lagu dari The Strokes. Di titik ini, arah musikal mulai terbentuk—lebih tajam, lebih spesifik, dan mulai memiliki identitas.


Pertemuan di Kampus dan Awal Terbentuknya The Changcuters

Qibil, Tria, Dipa
Cikal bakal The Changcuters justru lahir dari momen sederhana di masa kuliah. Qibil bertemu dengan Tria dan Dipa di FIKOM UNPAD, Jatinangor. Kedekatan mereka terbentuk dari kebiasaan berbagi tumpangan mobil ke kampus sambil bertukar playlist musik.

Dari obrolan ringan itulah chemistry terbentuk—dan perlahan berkembang menjadi fondasi sebuah band.


Terinspirasi Garage Rock Indonesia

Classic Rock Cafe
Pada tahun 2004, skena musik lokal sedang diramaikan oleh gelombang garage rock, termasuk dari The Brandals. Qibil, Tria, dan Dipa sering menghadiri gigs di kafe Classic Rock.

Awalnya hanya sebagai penonton, namun rasa jenuh akhirnya mendorong mereka untuk membentuk
band sendiri.


Terbentuknya The Changcuters dan Filosofi Nama


The Changcuters resmi terbentuk pada 19 September 2004
di Studio Plas. Nama “Changcuters” diambil dari panggilan teman-teman mereka, yang terinspirasi dari nama teman kecil Qibil, Cahya atau “Cangcut”.

Sejak awal, mereka membawa konsep yang berbeda dari band rock kebanyakan: tampil rapi, seragam, dan penuh karakter.

Mereka mulai menciptakan lagu-lagu original seperti:

  • Awas Angkot
  • Hey Nona
  • Pria Idaman Wanita

Formasi kemudian diperkuat dengan bergabungnya Alda dan Erick.


Pengaruh Musik The Changcuters

Secara musikal, The Changcuters banyak terinspirasi dari:

  • The Strokes
  • The Rolling Stones
  • The Hives

Namun mereka tidak sekadar meniru. Mereka mengolah pengaruh tersebut menjadi gaya yang lebih lokal, ringan, dan mudah diterima oleh pasar Indonesia.


Album Mencoba Sukses dan Perjalanan ke Major Label

Dua tahun setelah terbentuk, The Changcuters merilis album perdana “Mencoba Sukses” dengan bantuan Uki dalam proses produksinya.

Setelah menandatangani kontrak dengan Sony BMG, mereka merilis ulang album tersebut dengan perubahan materi dan pendekatan yang lebih matang.

Album repackage berjudul “Mencoba Sukses Kembali” (2008) menghadirkan lagu baru seperti:

  • Racun Dunia
  • I Love U Bibeh

Beberapa materi dalam album ini memiliki nuansa yang terinspirasi dari “Last Nite” dan “Honky Tonk Women”, namun tetap dikemas dengan gaya khas The Changcuters.


Ikon Rock n Roll Indonesia

Dengan identitas visual yang kuat, musik yang catchy, serta karakter yang konsisten, The Changcuters berhasil membangun posisi sebagai ikon rock n roll Indonesia.

Mereka bukan hanya band, tetapi juga representasi gaya hidup—di mana musik, fashion, dan attitude berjalan beriringan.

Di tengah perubahan tren industri musik, The Changcuters tetap relevan karena memiliki identitas yang jelas sejak awal.


Sejarah The Changcuters menunjukkan bahwa perjalanan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar. Dari tongkrongan sekolah, perjalanan kampus, hingga gigs kecil, semuanya menjadi bagian penting dalam membentuk identitas mereka.

Hari ini, The Changcuters bukan hanya bertahan—mereka menjadi salah satu band dengan karakter paling kuat di skena musik Indonesia.



The Changcuters: Cerita di Balik Seragam Rapi dan Rock n Roll


Peter Saville
Nama Peter Saville mungkin tidak muncul di liner notes lagu, tapi jejaknya terasa di hampir setiap sudut visual musik modern. Lahir pada 9 Oktober 1955 di Manchester, Saville adalah desainer yang mengaburkan batas antara seni rupa, musik, dan mode—membentuk cara kita melihat bunyi sejak era post-punk hingga sekarang.


Saville dikenal luas sebagai sosok di balik identitas visual Factory Records, label independen yang menaungi Joy Division, New Order, hingga Happy Mondays. Tapi perannya lebih dari sekadar “desainer album.” Bersama Tony Wilson dan Alan Erasmus, ia ikut mendirikan label tersebut, dan dari sanalah ia membangun sebuah bahasa visual baru—dingin, minimal, tapi sarat makna.

Dari “Unknown Pleasures” ke Dunia Global

Unknown Pleasures (1979
Sampul album Unknown Pleasures (1979) milik Joy Division adalah salah satu karya desain paling dikenali di dunia: grafik gelombang radio putih di atas latar hitam yang diambil dari publikasi ilmiah. Desain itu bukan sekadar cantik—ia menangkap esensi musik Joy Division yang penuh jarak, melankolis, dan obsesif terhadap keheningan.

Saville kemudian meneruskan kolaborasinya bersama New Order, dengan karya-karya seperti Movement (1981) dan Blue Monday (1983). Desain Blue Monday bahkan menyerupai kartu floppy disk dan hampir tidak menampilkan identitas band atau judul lagu—sebuah keputusan visual yang berani di masa ketika desain album masih dianggap media promosi.

Namun Saville tak berhenti di Manchester. Ia membawa design ethos-nya ke ranah global, bekerja untuk Yohji Yamamoto, Christian Dior, dan Burberry—yang terakhir ia bantu rebranding pada 2018 di bawah arahan Riccardo Tisci. Ia juga sempat menjadi creative director untuk kota Manchester pada 2004, serta berkolaborasi dengan merek tekstil Denmark Kvadrat untuk proyek desain berbasis seni rupa.

Desain sebagai Bahasa, Bukan Dekorasi

Dalam banyak wawancara, Saville sering menegaskan bahwa desain bukan soal menjual, tapi soal meaning. Ia melihat desain sebagai medium intelektual untuk menafsirkan musik dan konteksnya. Itulah sebabnya karya-karyanya selalu terasa punya “jarak emosional”—dingin, rapi, tapi tetap menggugah.

Pendekatannya yang menggabungkan keanggunan klasik dan semangat eksperimental membuat desainnya lintas zaman. Dari tipografi renaisans hingga tata letak modernis, dari warna lembut hingga ruang kosong yang disengaja—semuanya mencerminkan upaya Saville untuk membuat musik berbicara tanpa suara.

Dari Post-Punk ke Era Digital

Pengaruh Saville melampaui generasinya. Banyak pengamat menyebut ia membuka jalan bagi desainer musik masa kini seperti Jonathan Barnbrook (David Bowie’s Blackstar) atau Leif Podhajsky (Tame Impala), yang sama-sama menjadikan visual sebagai bagian integral dari pengalaman mendengarkan.

Di usianya yang ke-70, Saville tetap relevan—bukan karena nostalgia, tapi karena prinsipnya sederhana dan abadi: desain yang baik lahir dari waktu, pemikiran, dan kejujuran visual. Dalam era yang serba cepat dan penuh distraksi, karya-karya Peter Saville mengingatkan bahwa silence and restraint can still be radical.

Peter Saville: Desainer yang Mengajarkan Musik untuk Berbicara Lewat Visual





Mow Ray adalah seorang musisi yang dikenal karena kemampuannya merangkai cerita melalui setiap nada yang ia mainkan. Dengan keahlian pada alat musik chordophone yang dipetik, seperti gitar dan Oud, ia menjelajahi beragam tradisi musik dunia untuk menciptakan karya-karya yang otentik dan penuh makna. Perjalanan musiknya dimulai dengan pendidikan gitar klasik di bawah bimbingan Hanafi Hasan, sebuah langkah awal yang membentuk dasar musikalitasnya. Namun, semangat eksplorasi yang dimilikinya membawanya mendalami tradisi musik dari berbagai belahan dunia, termasuk bluegrass, blues, hingga musik klasik Hindustan. Melalui bimbingan Ustad Mehboob Nadeem Khan, Mow Ray memperdalam pemahaman dan keterampilannya, menjadikan musik sebagai medium ekspresi lintas budaya.


Tidak hanya dikenal sebagai seorang musisi, Mow Ray juga telah berbagi pandangannya di berbagai platform, termasuk podcast Goetlacc. Dalam episode "02.05: Rempah, Blues, dan Rock n Roll ft. Mow Ray," ia mengungkapkan pengaruh mendalam tradisi musik global terhadap proses kreatifnya. Perspektif ini menginspirasi pendengar untuk melihat musik sebagai sarana penyatuan dan refleksi budaya.


Sebagai seniman solo, Mow Ray telah merilis dua karya yang mencerminkan dedikasinya pada musik: Swara Bilik Rempah (2022) dan Raga on Oud (2024). Kedua album ini adalah eksplorasi mendalam terhadap perpaduan elemen tradisional dan kontemporer, menampilkan visinya yang unik dalam menciptakan musik yang melintasi batasan genre. Dalam album Swara Bilik Rempah, ia mengangkat warna-warni harmoni dari berbagai tradisi, sementara Raga on Oud menjadi bukti keahliannya dalam menginterpretasikan musik klasik Hindustan dengan gaya yang segar.

Swara Bilik Rempah (2022)
 
Raga On Oud (2024)


Di luar proyek solonya, Mow Ray juga aktif dalam berbagai kolaborasi musik yang menarik. Ia merupakan anggota dari trio MoTheoVishnu, Sound Anthropology, dan JAWARI. Proyek-proyek ini memungkinkan Mow Ray untuk mengeksplorasi lebih jauh sisi eksperimental musiknya. Bersama MoTheoVishnu, ia menciptakan harmoni yang unik melalui perpaduan gaya kontemporer dan tradisional. Di Sound Anthropology, ia berfokus pada eksplorasi lintas budaya dengan elemen-elemen musik global sama halnya dengan JAWARI yang merupakan kolektif musisi global. 



500 Days of Monsoon

Single terbarunya, "500 Days of Monsoon", adalah cerminan sisi lembut dan introspektif dari Mow Ray sebagai musisi. Lagu ini terinspirasi oleh kisah hidupnya yang beresonansi dengan film 500 Days of Summer, mengeksplorasi tema harapan di tengah tantangan dan kekecewaan. Dengan aransemen sederhana yang menonjolkan keindahan melodi dan lirik, Mow Ray menyampaikan pesan optimisme bahwa cinta akan menemukan jalannya meski penuh rintangan.



Proses produksi "500 Days of Monsoon" adalah perjalanan yang sangat personal bagi Mow Ray. Direkam dan mixing di studio ElecSonic dengan audio engineer William Reubin di Barnet, Inggris, Lagu ini sepenuhnya dimainkan oleh Mow Ray, termasuk vokal utama, backing vocal, dan seluruh instrumentasi. Mastering dilakukan di TDS Studios di Hackney, London, memberikan hasil akhir yang kaya dan emosional.


Sebagai musisi yang telah tampil di berbagai panggung ternama seperti Servant Jazz Quarters, SOAS Brunei Gallery, hingga Bloomsbury Festival, Mow Ray terus menunjukkan konsistensi dalam memperluas jangkauan musikalnya. Penampilannya di acara-acara bergengsi seperti London International Arts Festival semakin mengukuhkan reputasinya sebagai seniman lintas budaya yang membawa musik ke tingkat yang lebih tinggi.

 Jawari at the London Intl. Arts Festival 2023

 Sound Anthropology at The Nehru Center

 Mo and Friends


ToMo Opening for Soumik Datta

 MoTheoVishnu at Rich Mix with Mehfil


Rilisan terbarunya, "500 Days of Monsoon," bukan hanya sebuah lagu, melainkan langkah penting dalam perjalanan artistiknya yang penuh makna. Dengarkan dan nikmati karya ini sebagai bukti dedikasi dan kecintaannya pada musik yang melampaui batas waktu dan budaya.






Mengenal Mow Ray: Musisi yang Menghubungkan Tradisi Musik Dunia

Bagi kalian para penikmat lagu-lagu dari The Stone Roses, Happy Mondays, The Charlatans, atau New Order, kalian mungkin tidak asing dengan istilah madchester. Pergerakan kaum muda Inggris yang berpusat di kota Manchester ini menyeruak pada akhir tahun 80an. Istilah Madchester sendiri diambil dari judul EP oleh band Happy Mondays, "Madchester Rave On!" yang dirilis pada 1989 dan langsung diterima oleh kalangan media dan juga insan skena pada kala itu.

Awal Kemunculan

Penampilan Sex Pistols di Manchester

Manchester pada pertengahan 1970-an adalah kota yang tengah bergulat dengan perubahan sosial dan ekonomi. Penutupan pabrik-pabrik akibat deindustrialisasi meninggalkan banyak anak muda tanpa arah, sementara budaya musik arus utama dianggap monoton dan tidak relevan dengan kehidupan mereka. Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian ini, sebuah gerakan kecil namun berpengaruh mulai tumbuh, dipicu oleh dua malam bersejarah yang akan membentuk wajah musik alternatif di Manchester selama beberapa dekade berikutnya.




poster promosi konser Sex Pistols
Dua konser yang digelar oleh Sex Pistols di Manchester's Free Trade Hall pada Juni dan Juli 1976
 telah menjadi bagian legendaris dari sejarah musik kota tersebut. Meski dihadiri oleh jumlah penonton yang relatif kecil, pertunjukan ini dianggap sebagai katalis utama bagi lahirnya gerakan musik alternatif di Manchester. Narasi yang sering diulang menyebut bahwa pengalaman menyaksikan Sex Pistols menginspirasi banyak anak muda setempat untuk membentuk band mereka sendiri, membuka jalan bagi budaya musik Do-It-Yourself (DIY) yang revolusioner.





Bagi banyak penonton, konser ini menyampaikan pesan bahwa bakat formal atau pelatihan musik bukanlah syarat mutlak untuk menjadi musisi. Banyak orang yang menonton pertunjukan Sex Pistols di Free Trade Hall ini yang kemudian menjadi musisi dan membuat band. Morrisey, pentolan The Smiths hadir menyaksikan konser tersebut dan kemudian membuat tulisan untuk NME, Mark E Smith vokalis band The Fall, Howard Devoto dan Pete Shelley dari The Buzzcocks, Bernard Sumner dan Peter Hook dari Joy division, juga Tony Wilson dan Martin Hannett dari Factory Records.



Lebih dari sekadar acara musik, konser-konser ini juga berfungsi sebagai titik pertemuan bagi individu-individu yang memiliki hasrat yang sama terhadap sesuatu yang berbeda. Mereka yang hadir menemukan komunitas baru yang berbagi semangat untuk menciptakan ruang alternatif di luar budaya klub malam konvensional dan komersial. Dengan demikian, dua malam bersejarah ini tidak hanya menginspirasi munculnya band-band legendaris seperti Joy Division dan The Buzzcocks, tetapi juga memulai transformasi Manchester menjadi pusat inovasi budaya yang menjadi cikal bakal gerakan post-punk dan skena Madchester di tahun-tahun berikutnya.


Beralih dari Post-punk

Semenjak Margaret Thatcher menjabat sebagai perdana menteri Inggris (1979-1990), ia memberlakukan kebijakan neo-liberal atau yang dikenal dengan istilah thatcherism yang dianggap lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan menyudutkan kaum-kaum pekerja. Kondisi sosial ekonomi yang kelam pada saat itu memunculkan banyak musisi dan seniman yang mengekspresikan rasa kalut dan kekecewaannya kedalam karya-karya mereka. Hal ini pula yang terproyeksikan pada karakter musik gelap dan muram ala post-punk. 


panggung terakhir Joy Division, Jumat, 2 Mei 1980 di High Hall, Universitas Birmingham

Band-band post-punk dari Manchester, seperti Joy Division dan The Fall, membangun landasan dengan estetika gelap dan eksplorasi artistik mereka. Semangat eksperimental ini diwarisi oleh skena Madchester, tetapi dengan pendekatan yang lebih energik dan optimis. Setelah kematian Ian Curtis (vokalis Joy Division), sisa anggotanya membentuk New Order, yang memadukan elemen post-punk dengan musik dansa elektronik. New Order menjadi jembatan utama antara kedua era.

Seperti pada era post-punk, Manchester masih menghadapi dampak dari deindustrialisasi, tetapi generasi muda mulai melihat seni dan musik sebagai cara untuk merebut kembali identitas kota mereka. Madchester menawarkan pelarian dari realitas keras dengan menciptakan komunitas yang bersifat lebih meriah dan penuh energi positif dibandingkan dengan nada depresif post-punk.


Masuknya Pengaruh Acid House dan Budaya Rave

Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, musik acid house dari Chicago mulai masuk ke Inggris dan menginspirasi munculnya budaya rave. Suara elektronik yang hipnotis dan atmosfer pesta besar menjadi fenomena yang menyebar di seluruh negeri, termasuk di Manchester. Perayaan rave sering kali diiringi oleh penggunaan MDMA (ecstasy), yang menciptakan rasa persaudaraan, euforia, dan pelarian dari realitas sosial yang keras.

Pada musim panas 1988 hingga 1989 dikenal dengan "Second Summer of Love". Periode ini dianggap sebagai puncak dari revolusi budaya rave dan acid house di Inggris. Manchester menjadi salah satu pusatnya. Perayaan rave besar-besaran di lokasi terbuka dan gudang-gudang kosong menciptakan komunitas yang antusias terhadap budaya musik dansa.


Upaya Factory Records dalam Membentuk Skena Madchester

Mengorbitkan band-band lokal Manchester

Factory Records memberikan tempat bagi artis-artis lokal untuk berkembang tanpa tekanan komersial yang biasa ditemukan di label besar. Beberapa kontribusi penting Factory Records terhadap skena Madchester meliputi:

  • New Order: Setelah bubarnya Joy Division, New Order melanjutkan eksperimen musik post-punk dengan elemen elektronik. Lagu-lagu mereka, seperti "Blue Monday" (1983), menjadi pionir dalam menggabungkan musik dansa elektronik dengan sensibilitas rock.
  • Happy Mondays: Salah satu band yang paling ikonik di skena Madchester, mereka menciptakan perpaduan unik antara rock, funk, acid house, dan gaya jalanan Manchester. Album seperti Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) dirilis melalui Factory Records dan menjadi simbol energi Madchester.
  • A Certain Ratio: Band ini memperkenalkan gaya funk-punk yang kaya dengan ritme dansa, memengaruhi evolusi musik skena.

Membangun Klub Malam Sebagai Pusat Budaya Rave

Klub Malam Haçienda

Pada 1982 Factory Records membuka sebuah klub malam The Haçienda (FAC 51) dan sekaligus menjadi pusat penyebaran budaya rave. Klub ini memadukan musik dansa dengan suasana klub malam yang modern, memengaruhi estetika musik dan gaya hidup skena Madchester. Klub malam ini tidak hanya menjadi tempat dansa tetapi juga melahirkan band-band seperti Happy Mondays dan The Stone Roses.

Sosok-sosok Berpengaruh Dibalik Factory Records

Sosok-sosok dibalik Factory Records tentu sangat berpengaruh terhadap terbentuknya skena madchester. Beberapa sosok yang paling menonjol adalah Tony Wilson dan Martin Hannett.

  • Tony Wilson
    Tony Wilson
    merupakan pendiri sekaligus wajah dari Factory Records. Pada 1978, Ia bersama Alan Erasmus, Rob Gretton, Martin Hannett, dan Peter Saville menciptakan wadah bagi bakat-bakat yang ada di Inggris, khususnya Manchester. Memiliki latar belakang sebagai jurnalis dan presenter, Tony Wilson memanfaatkan berbagai platform media sebagai sarana mempromosikan skena lokal, membantu membangun reputasi Manchester sebagai pusat budaya kreatif.
  • Martin Hannett
    Sedangkan Martin Hannett, sebagai produser musik ia memainkan peran besar dalam membentuk suara unik dari artis Factory. Misalnya, ia menggunakan teknik produksi yang atmosferik dan inovatif untuk Joy Division, A Certain Ratio dan Happy Mondays. Gaya Hannett sering kali melibatkan manipulasi suara dengan efek yang menciptakan nuansa psikedelik dan introspektif.

    Meskipun kontribusinya besar, hubungan Hannett dengan Factory Records dan artis-artisnya tidak selalu harmonis. Beberapa band merasa frustrasi dengan gaya produksinya yang perfeksionis dan eksperimen teknis yang memakan waktu lama. Setelah merilis beberapa karya sukses, Hannett berkonflik dengan Tony Wilson dan meninggalkan Factory Records pada awal 1980-an. Hal ini membuatnya kurang terlibat secara langsung dalam puncak skena Madchester, meskipun pengaruhnya tetap terasa.

Puncak Kejayaan Madchester

Skena Madchester mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, dengan puncaknya sekitar tahun 1989-1991. Masa ini ditandai oleh beberapa peristiwa ikonik yang mempengaruhi kesuksesannya

Kesuksesan Komersial Band-Band Kunci

Madchester pada sampul majalah NME
Happy Mondays:
Album mereka, Bummed (1988), mulai menarik perhatian, tetapi Pills 'n' Thrills and Bellyaches (1990) yang benar-benar membawa mereka ke arus utama. Lagu seperti Step On menjadi hit besar.

The Stone Roses: Album debut mereka, The Stone Roses (1989), dianggap sebagai salah satu album terpenting dalam sejarah musik Inggris, dengan lagu seperti I Wanna Be Adored dan Fools Gold menjadi ikon.

Inspiral Carpets: Band ini juga menarik perhatian dengan lagu-lagu seperti This Is How It Feels, yang menggabungkan elemen garage rock dengan estetika psychedelic.

Konser Spike Island oleh The Stone Roses (27 Mei 1990)

Konser Spike Island, yang digelar pada 27 Mei 1990 di Widnes, Cheshire, dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam skena Madchester. Diselenggarakan oleh The Stone Roses, acara ini sering disebut sebagai "Woodstock-nya Generasi Baggy" dengan dihadiri oleh sekitar 27.000 pengunjung. Konser tersebut menjadi simbol puncak popularitas Madchester, menegaskan kekuatan budaya musik ini sekaligus mencerminkan antusiasme generasi muda terhadap gerakan tersebut. Konser bersejarah ini direkonstruksi kedalam film karya sutradara Mat Whitecross berjudul Spike Island.

 

Top of The Pops


Sebagai salah satu acara musik paling penting di Inggris pada masanya, TOTP menawarkan platform yang memungkinkan band-band Madchester mencapai audiens yang jauh lebih luas, melampaui batasan komunitas lokal atau penggemar alternatif. Saat band seperti Happy Mondays, The Stone Roses, dan Inspiral Carpets tampil di acara ini, mereka tidak hanya menarik perhatian penggemar musik alternatif tetapi juga menjangkau audiens umum yang mungkin sebelumnya tidak akrab dengan musik mereka. Penampilan seperti Step On dari Happy Mondays dan This Is How It Feels dari Inspiral Carpets membantu menjadikan lagu-lagu tersebut hit nasional.

Band-band Madchester

Madchester yang berpusat di kota Manchester mencapai puncak ketenarannya pada peralihan dekade 80an ke 90an. Ketenaran skena ini menjalar ke beberapa kota lain di Inggris dan luar Inggris. Hal ini terbukti dengan munculnya band dan musisi dengan unsur-unsur yang serupa dengan madchester di kota-kota seperti London, Liverpool, Newcastle, bahkan hingga Skotlandia. Beberapa diantaranya adalah:

Band Inti Madchester

Happy Mondays

  1. The Stone Roses
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Fools Gold, I Wanna Be Adored
  2. Happy Mondays
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Step On, Kinky Afro
  3. Inspiral Carpets
    Asal: Oldham (dekat Manchester)
    Lagu hits: This Is How It Feels, She Comes in the Fall
  4. 808 State
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Pacific State, In Yer Face
  5. A Guy Called Gerald
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Voodoo Ray, Pacific

Band Pendukung Langsung

The Charlatans

  1. James
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Sit Down, Laid
  2. The Charlatans (UK)
    Asal: Northwich, Cheshire
    Lagu hits: The Only One I Know, Then
  3. Northside
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Shall We Take a Trip, Take 5
  4. Paris Angels
    Asal: Ashton-under-Lyne (dekat Manchester)
    Lagu hits: Perfume (All on You)
  5. The High
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Box Set Go, Up and Down
  6. New Fast Automatic Daffodils (New FADs)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Big, Fishes Eyes
  7. The Mock Turtles
    Asal: Middleton, Manchester
    Lagu hits: Can You Dig It?, And Then She Smiles

Band yang Terpengaruh atau Terkait dengan Madchester

The Soup Dragons

  1. Flowered Up
    Asal: London
    Lagu hits: It's On, Weekender
  2. The Soup Dragons
    Asal: Bellshill, Skotlandia
    Lagu hits: I'm Free, Divine Thing
  3. Primal Scream
    Asal: Glasgow, Skotlandia
    Lagu hits: Loaded, Movin' On Up
  4. Black Grape
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Reverend Black Grape, In the Name of the Father
  5. Candy Flip
    Asal: Stoke-on-Trent
    Lagu hits: Strawberry Fields Forever (cover)
  6. Sub Sub (kemudian menjadi Doves)
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Ain't No Love (Ain't No Use)
  7. Intastella
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Dream Some Paradise
  8. The Farm
    Asal: Liverpool
    Lagu hits: All Together Now, Groovy Train
  9. World of Twist
    Asal: Manchester
    Lagu hits: The Storm, Sons of the Stage
  10. The Wendys
    Asal: Edinburgh, Skotlandia
    Lagu hits: Pulling My Fingers Off, I’ve Seen It All Before
  11. Electronic
    Asal: Manchester
    Lagu hits: Getting Away with It, Disappointed

Berakhirnya Kemeriahan Madchester

Skena Madchester, yang mencapai puncak popularitasnya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, mengalami kemunduran yang cepat setelah 1991. Tren musik Britpop kemudian menggantikannya sebagai gerakan musik Inggris yang dominan.

Masalah Internal Band-Band Utama 

Pemberitaan Media terkait The Stone Roses
The Stone Roses menemui rintangan didalam karir setelah kesuksesan album debut mereka (1989). Mereka terlibat dalam sengketa hukum yang berkepanjangan dengan label rekaman Silvertone, yang menghentikan aktivitas mereka selama beberapa tahun. Album kedua mereka, Second Coming (1994) yang baru dirilis lima tahun kemudian gagal memenuhi ekspektasi kritikus serta penggemar. Selain itu, konflik internal band yang diperkeruh dengan keluarnya sang gitaris John Squire dan sang drummer Reni membuat kemunduran tak terelakkan.


Happy Mondays menghadapi masalah narkoba yang serius, yang memengaruhi produktivitas dan kinerja mereka. Album mereka Yes Please! (1992), direkam di tengah kondisi yang kacau di Barbados, menerima kritik buruk dan gagal secara komersial.

Kebangkrutan Factory Records dan The Haçienda

Label rekaman yang menjadi pusat dari skena Madchester bangkrut pada 1992 karena masalah keuangan, termasuk investasi besar pada proyek gagal seperti The Haçienda. Dengan hilangnya Factory Records, banyak band kehilangan dukungan logistik dan finansial untuk melanjutkan karier mereka. Faktor lain yang membuat kejatuhan Factory Records tak terelakkan adalah kebangkrutan klub malam The Haçienda. Klub legendaris The Haçienda mengalami masalah keuangan yang parah akibat pengelolaan yang buruk dan ketergantungan pada budaya pesta rave. Meningkatnya kekerasan dan kriminalitas terkait narkoba di The Haçienda pada awal 1990-an membuat reputasinya menurun. Klub ini akhirnya ditutup pada 1997.

Pergeseran Tren dan Selera Musik

Pada awal 1990-an, publik mulai merasa jenuh dengan estetika Madchester, yang sering dianggap terlalu terkait dengan pesta dan hedonisme. Musik grunge dari Amerika Serikat, dipopulerkan oleh band seperti Nirvana dan Pearl Jam, menarik perhatian besar pada awal dekade tersebut, menawarkan gaya yang lebih gelap dan introspektif dibandingkan energi santai Madchester.

Oasis, band britpop asal Manchester
Gerakan Britpop muncul pada pertengahan 1990-an, dengan band seperti Oasis, Blur, dan Pulp membawa fokus baru pada rock yang lebih melodik dan lirik yang mencerminkan kehidupan kelas pekerja Inggris. Oasis, yang berasal dari Manchester, sering dikaitkan dengan warisan Madchester tetapi dengan suara yang lebih sederhana dan pengaruh besar dari The Beatles. Album debut mereka, Definitely Maybe (1994), menjadi salah satu katalis utama kebangkitan Britpop. Keberadaan Britpop menarik perhatian media Inggris, terutama melalui majalah seperti NME dan Melody Maker, yang memposisikan Britpop sebagai kebangkitan musik Inggris dan alternatif dari warna musik grunge dari Amerika.


Mengenal Lebih Dalam Skena Madchester



Dari Semarang, Old Deer kembali muncul sebagai salah satu generasi baru yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sempat mengharu biru dengan tiga single yang mereka rilis sebelumnya yaitu “Orangnya Menarik”, “Lovebirds” dan terakhir “Song Of Life”, trio Dani Cahyanto (vokal & gitar rhythm), Domenico Pinandhito (lead guitar), dan Rifqi Kurniawan (drum) kembali dengan menelurkan “Baik – Baik Saja”. 


“Baik Baik Saja” dipilih sebagai single baru ini menceritakan mengenai seorang pria yang sedang melewati perjalanan lika – liku hidupnya. “Pria ini selalu menyadari akan hal itu baik dari penyesalan maupun kegagalannya, seorang pria tetap mendapatkan kebahagiaannya” jelas Dani. Sesuatu yang tidak selalu terduga akan menjadi hal baik yang datang dan memberikan kebahagiaan.



Apapun yang sudah dilakukan dengan hasil yang kurang memuaskan atau tidak sesuai ekspektasi, itu bukan berarti sebuah kegagalan karena bahkan dari kegagalannya, kita masih bisa mendapatkan sisi positif-nya. Seperti yang tersirat pada baris lirik yang ditulis sang vokalis, “jangan terlarut dalam penyesalan, dunia berputar dan waktu berjalan, kebahagiaan pasti menghadirimu”.


Atmosfer “Baik Baik Saja” sebagai lagu dengan rasa pop yang berbaur menjadi sebuah tandingan dari riff rock yang intens dan melodi gitar yang mengesankan. Komposisi ini mengiringi vokal yang sedikit mengawang, meyakinkan pendengarnya bahwa “walau sedikit terluka, semua akan baik - baik saja”. Jika digabungkan, beberapa aspek ini menentukan esensi suara “Baik Baik Saja” – sebagai sebuah lagu yang menuntut reaksi instan pendengarnya.


Nantinya “Baik – Baik Saja” akan menjadi bagian dari sebuah mini album berjudul Alur. EP ini akan berisi empat lagu dengan komposisi lirik yang berimbang antara penggunaan bahasa Inggris dan Indonesia. 



Dalam hal single, kualitas yang konsisten dari keluaran bandlah yang membedakan Old Deer dari band lainnya. Sebagian besar band mempunyai satu atau dua single yang bagus, namun, secara kritis dan objektif, Old Deer sudah bisa memiliki empat singles yang kuat. Dan single baru ini membingkai energi kreatif dalam mini album yang akan mereka rilis selanjutnya.


Single Old Deer - Baik – Baik Saja akan dirilis Irama Records via digital store mulai tanggal 20 September 2024.


Tulisan oleh: Indra Menus (Publicist)


Di Single Baru-nya, Old Deer Meyakinkan Bahwa Semua Akan Baik – Baik Saja



Band dream pop asal Jawa Tengah, The Grovvs, dengan bangga merilis single terbaru mereka, "Strange Love," di bawah naungan TwoTwo Records. Single ini menandai permulaan untuk rencana perilisan EP yang dijadwalkan akhir tahun 2024.


Saat ini, The Grovvs terdiri dari tiga personel, yaitu Handy Aldiawan, Raafi An, dan Ivan Adis. Di tengah kesibukan mereka dalam persiapan dan promosi EP yang akan datang, para personel tetap produktif dalam menciptakan karya-karya baru meski disibukkan dengan kuliah.


Single "Strange Love" sangat cocok untuk remaja yang sedang mengagumi seseorang yang belum dikenal. Ditulis oleh mantan vokalis Wisnu Rafi bersama sahabatnya Rafi Muizz, single ini memungkinkan pendengar untuk membayangkan bagaimana rasanya mengagumi seseorang yang belum mereka kenal.



Tentang "Strange Love", Wisnu Rafi mengungkapkan: "'Strange Love' adalah karya yang meresapi kedalaman emosi yang melampaui norma dan dipenuhi dengan paradoks yang tak terduga. Lagu ini menggambarkan perjalanan emosional yang kompleks—sebuah pencarian di antara ketertarikan dan kebingungan yang sering kali muncul ketika cinta datang dalam bentuk yang tidak terduga. Cinta, dalam konteks ini, muncul di saat kita membuka mata untuk mengamati dunia di sekitar kita, namun dalam sekejap, ia juga bisa lenyap seperti ilusi dalam kedipan mata. Ini adalah tentang bagaimana cinta sering kali muncul sebagai sesuatu yang sangat nyata dan menyentuh, hanya untuk menghilang dan meninggalkan kita dengan rasa kehilangan yang mendalam. 'Strange Love' mengajak pendengar untuk merasakan dan memahami betapa penuh liku dan tidak terduganya perjalanan cinta yang sering kali kita jalani."


Rafi Muizz menambahkan: "Lirik 'Strange Love' menyelami pengalaman cinta yang penuh kebingungan dan kegelapan. Saya ingin menciptakan gambaran tentang perasaan terasing dan kebutuhan untuk melepaskan diri dari hubungan yang rapuh. Lirik ini mencerminkan usaha untuk memahami dan menemukan jawaban dalam cinta yang tampak tidak biasa. Ini adalah ekspresi dari kekacauan emosional dan pencarian untuk kebebasan yang sebenarnya dalam sebuah hubungan." 


Setelah merilis dua single secara mandiri, tahun ini The Grovvs kembali dengan single terbaru mereka bersama TwoTwo Records. "Strange Love" adalah awal dari sesuatu yang lebih besar yang akan diluncurkan seiring berjalannya waktu.


"Strange Love" kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital streaming mulai tanggal 6 September 2024, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music, Joox, Deezer, Reso, dan banyak lagi.

Terhubung dengan The Grovvs


Instagram
Youtube

Tiktok

Penantian Usai: The Grovvs Rilis Single Terbaru 'Strange Love' Setelah 2 Tahun, Pembuka Menuju EP Album




Littlefingers merilis single terbaru mereka, Four Flights to Fibs. Single ini merupakan lanjutan dari single mereka yang dirilis Juli lalu, sebagai rangkaian menuju album kedua mereka yang akan dirilis pada bulan-bulan mendatang.


Four Flights to Fibs diambil dari deret Fibonacci, susunan angka yang ketika dijumlahkan dengan dua angka sebelumnya dan apabila diaplikasikan dalam bentuk visual membentuk spiral yang ukurannya saling berkaitan satu sama lain; sebagaimana tertuang dalam cover lagu ini. Bentuk spiral yang seringkali disebut sebagai Golden Ratio tersebut merepresentasikan kehidupan ketiga personil Littlefingers yang merajut karir mereka sebagai session player bagi berbagai artis ternama tanah air. Meski sudah bermain di berbagai panggung bersama berbagai musisi-musisi terbaik Indonesia, Littlefingers merasa mereka selalu akan kembali kepada teman bermain musik dan musik yang mereka paling nyaman.


“Kami bertiga selalu sepakat bahwa Littlefingers adalah ‘rumah’ kami. Meskipun kami jarang bertemu satu sama lain dan seringkali lebih sibuk bekerja mengiringi berbagai musisi dengan berbagai genre di luar musik yang kami tulis atau dengarkan, Litlefingers selalu jadi ruang bebas untuk kami menuangkan apa yang ada di dalam pikiran kami masing-masing,” ujar David.


Tidak hanya soal pengalaman hidup mereka, secara komposisi musik Littlefingers juga membentuk Four Flights to Fibs berdasarkan prinsip deret FIbonacci. Struktur lagu dibagi menjadi empat bagian yang terdengar berbeda, namun tetap saling berhubungan satu sama lain. Awal lagu dimulai dengan pola repetitif synthesizer dari Chika Olivia, yang kemudian secara bertahap dikembangkan oleh permainan bass gahar Tjdika dan permainan drum yang bombastis dari David Halim. Masih diproduseri dan dimixing dan mastering secara mandiri, Four Flights to Fibs menyajikan irama yang enerjik namun sarat akan teknik dan detail musikal. 


Tjdika menambahkan, “Sebagai musisi, seringkali kami merasa berputar di tempat yang sama. Menulis dan berlatih terus menerus, namun belum ada hasil yang signifikan. Padahal, yang perlu kami lakukan adalah hanya diam sejenak untuk menghargai proses yang kami jalani dan melihat seberapa jauh kami sudah berjalan. Pengalaman tersebut yang kami tuangkan dalam single ini; dengan mengembangkan putaran akor awal yang terus dikembangkan hingga akhir lagu.”


Four Flights to Fibs tersedia di seluruh platform streaming digital pada tanggal 30 Agustus 2024.




TENTANG LITTLEFINGERS (@___littlefingers)

Littlefingers adalah trio jazz elektronik asal Jakarta, Indonesia yang terdiri dari Chika Olivia (keys), Tjdika (bass), dan David Halim (drum). Memulai perjalanan musik mereka pada awal tahun 2020 dengan single pertamanya, “Can Good Things Last Forever?”, Littlefingers berhasil menjadi salah satu grup terbaik di segmen jazz elektronik dengan mendulang lebih dari 1.000.000 streams di Spotify dan tampil di berbagai festival musik nasional maupun mancanegara, seperti Java Jazz Festival, Monsoon Festival Vietnam, dan UAH Festival Malaysia. Tidak hanya itu, Littlefingers juga berhasil menyabet tiga nominasi Anugerah Musik Indonesia Awards di tahun pertama mereka berpartisipasi pada tahun 2023.


SOCIAL MEDIAS

Instagram: @___littlefingers

Youtube: Littlefingers Music

Tiktok: Littlefingers Music

Facebook: Littlefingers Music





Four Flights to Fibs : Anak Tangga Littlefingers Menuju Puncak

 

Jeff Buckley di Atlanta 1994 (by David Tonge/Getty)

Dibesarkan oleh Ibu dan Ayah tirinya Jeff Buckley tumbuh besar dengan lagu lagu dari Led Zeppelin, Queen, Jimi Hendrix dan Kiss. Anak dari musisi folk yaitu Tim Buckley tersebut mulai bermain gitar di beberapa band yang sedang merintis. Salah satunya Wild Blue Yonder yang beranggotakan John Humprey dan Danny Carey yang lambat laun menjadi drummer dari Tool. Jeff yang sangat menggemari Nusrat Fate Ali Khan membuatnya menyukai Qawwali, yaitu lagu renungan islam sunni dari Pakistan. 


Hanya Mengeluarkan 1 album yaitu Grace. Album ini menjadi sorotan beberapa musisi seperti Jimmy Page, Robert Plant dan Bob Dylan. David Bowie mengatakan album ini adalah salah satu dari 10 album yang dibawanya saat sedang di Pulau Terpencil.  Lagu seperti “Lover, You Should’ve Come Over”, “Hallelujah” dan “Last Goodbye” menjadikan album ini sebagai 500 album terbaik sepanjang masa menurut Rolling Stones


Album “Grace” Jeff Buckley di tahun 1994

Kronologi Kematian

Diumurnya yang ke 30 tahun Jeff mulai membuat album berikutnya dan pergi ke Memphis, Tennese untuk merekam albumnya disana. Saat anggota band Buckley tiba di Memphis Jeff Menghilang pada malam hari. Dan Jenazah Jeff Ditemukan 6 hari kemudian pada tanggal 4 Juni 1997 di Sungai Mississipi.


Wolf River (Tennessee) (By Garry Bridgman)

29 Mei 1997 Jeff dan Keith Foti road managernya mulai bekeliling mencari gedung dimana tempat bandnya akan berlatih nanti. Setelah tidak menemukan mereka mulai menyusuri sungai Mississipi. Walau memakai celana jeans dan pakaian lengkap Jeff mulai berenang di sungai Mississipi sambil menyanyikan lagu “Whole Lotta Love” dari Led Zeppelin. Setelah itu Keith mulai mencari dan Jeff sama sekali tidak terlihat saat Tugboat melewati Jeff dan tenggelam karena arus air dari Tugboat seolah olah terhisap.

Berita Hilangnya Jeff Buckley (Newspaper.com) 

Menurut pemeriksaan Otopsi Jeff meninggal tenggelam tak disengaja, walau dia meminum alkohol kadar alkohol dalam darahnya rendah dan tidak ada obat obatan. Situs resmi dari Jeff Buckley menyatakan bahwa Jeff Buckley meninggal secara misterius atau bunuh diri.


Jeff Buckley dan Kematian Tragisnya