"Every year is getting shorter, never seem to find the time. Plans that either come to naught or half a page of scribbled lines" penggalan lirik tersebut diambil dari salah satu lagu Pink Floyd favoritku berjudul "Time". Lagu tersebut menceritakan bahwa kita, manusia selalu dikejar oleh waktu. Pernah gak sih kalian merasa semakin bertambahnya umur, waktu terasa semakin cepat? Menurutku, konsep waktu sendiri sungguh menakutkan. Perasaan tidak nyaman selalu menghantuiku disaat aku berandai-andai tentang masa depan. Terkadang, akupun larut dalam ketakutan sampai-sampai lupa untuk menikmati momen dan be present. Synecdoche, New York mungkin adalah karya paling nyata dan paling jujur soal masalahku ini.
Film ini adalah directorial debut dari seorang writer, Charlie Kaufman yang dirilis pada tahun 2008. Sebelumnya, ia sempat menulis beberapa film yang gak kalah oke yang diantaranya ada Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) dan Being John Malkovich (1999). Dari sisi sinematografi sendiri, ada Frederick Elmes yang bertanggungjawab setelah menggarap film Blue Velvet (1986) bersama David Lynch. Film ini turut menghadirkan para aktor kawakan Hollywood, antara lain ada Philip Seymour Hoffman, Michelle Williams dan Samantha Morton.
Bercerita tentang seorang sutradara teater bernama Caden Cotard yang diperankan oleh Philip Seymour Hoffman, kita diajak untuk mengikuti perjalanan hidup Caden bersama para wanita yang pernah bersamanya dan obsesinya membuat sebuah larger-than-life opera di sebuah gudang besar yang terbengkalai di daerah New York.
Karya underrated ini bertemakan kematian dan implikasinya. Caden Cotard terus menerus dihantui rasa takut akan kematian yang membuatnya pergi ke dokter hampir setiap hari. Setiap penyakit yang ditemukannya, ia langsung dirujuk ke dokter spesialis yang ujung-ujungnya merekomendasikan dia untuk ditangani lebih lanjut ke dokter lain. Bahkan, nama belakang Caden sendiri diambil dari sebuah penyakit bernama Cotard Syndrome dimana seseorang merasa dirinya sudah mati.
Prinsip dari hidup Caden sangat bertentangan dengan istrinya, Olivia. Olivia adalah seorang pelukis yang carefree dan hanya ingin "hidup". Menurutku, pesan yang ingin disampaikan oleh Charlie Kaufman adalah dualisme cara menjalani hidup. Antara kamu hidup dalam ketakutan dan main aman atau hidup dengan sembrono tapi kamu merasa "hidup" seutuhnya. Tidak ada yang salah dari keduanya, menurutku. Walaupun, aku lebih setuju dengan hidup sembrono, hehe.
Kejujuran adalah aspek utama dalam storytelling film ini, Charlie Kaufman berkata, "Saya tidak pernah punya maksud untuk membuat film yang depressing. Saya hanya ingin bercerita tentang sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dan saya pikir, ketika saya merilisnya akan tercipta suatu koneksi batin ke penonton." Salah satu bagian yang diujarkan oleh Charlie Kaufman adalah kegagalan. Setiap manusia pasti gagal, mulai dari hubungan sosial sampai karir. Tapi, yang membuat narasi ini lebih menyeramkan lagi adalah, bagaimana jika kamu tutup usia sebelum kamu berhasil? Ya, itulah yang dialami Caden Cotard. Dengan sisa waktu yang dimilikinya, ia berambisi untuk membuat sebuah opera besar tentang kehidupan. Ribuan pemeranpun berkontribusi dalam opera ini dan, tidak ada penonton sama sekali. Yang mereka lakukan hanyalah latihan tanpa henti sampai Caden Cotard tutup usia.
Salah satu keunikan film ini adalah bagaimana cara Charlie Kaufman merepresentasikan waktu. Di film ini, waktu adalah hal yang tidak relevan. Semuanya berjalan begitu cepat dan tidak linear. Charlie Kaufman mengatakan bahwa ia ingin membuat sebuah film yang terasa seperti mimpi. It's all over the place, it's messy, but it has a coherent story. Yang membuatku mengutip penggalan lirik Pink Floyd sendiri adalah perasaan yang aku rasakan sehari setelah nonton film ini. Kita sebagai manusia terbelenggu oleh waktu. Semakin tua, waktu semakin cepat berjalan. Rasanya seperti mengejar matahari sampai matahari tersebut terbit lagi di belakang kita.
Charlie Kaufman sukses membuat film yang bertujuan memberi pengalaman. Mungkin, bagi kamu yang kurang suka film yang berdurasi panjang dan alur cerita yang terkesan amburadul tidak akan menyukai film ini. Setelah menonton film ini, aku menemukan diriku terdiam. Bingung mau nulis apa! Dari soal cerita gak terlalu jelas, dari sinematografi, ya lumayan lah! Tapi apa yang mau ditulis? Disaat itulah aku tersambar dengan kesadaran, bahwa film ini bukan bertujuan menceritakan sesuatu yang kohesif, melainkan akan membuatmu merasakan sesuatu. Cerita tragis Caden Cotard serta pacing yang terkesan cepat tapi lambat bikin kamu sadar betapa pentingnya waktu. Menghabiskan waktu dengan rasa takut dan obsesi tidak akan berakhir baik. Coba deh, kita semua menikmati hidup apa adanya. Dengan segala kesulitannya, kesenangannya, dan lain-lain. Just be present.
Untuk menutup review filmku yang tidak seberapa ini, aku ingin mengutip lagu "Mr. Blue Sky" dari Electric Light Orchestra :
"Mr. Blue, you did it right
But soon comes Mr. Night, creepin' overNow his hand is on your shoulderNever mind, I'll remember you this,I'll remember you this way."


Tidak ada komentar:
Posting Komentar