Melalui punggawa album “Opera Rock Ken Arok” Harry Roesli yang berdurasi 45 menit ini, dirilis pertama kali pada tahun 1977 dibawah label PT. Eterna Tunggal Indonesia kemudian dirilis kembali pada tahun 2018 oleh La Munai Records dalam bentuk Vinil dan memproduksi format CD pada tahun 2019 , “Opera Rock” ini berawal dari keresahan yang terjadi atas kerusuhan pertama kali saat masa Orde Baru, yang kemudian dikenal dengan Malari pada tahun 1974, Harry Roesli mengajak muda mudi Bandung (yang menjadi cikal bakal terbentuknya Depot Kreasi Seni Bandung dikemudian hari) untuk menggelar sebuah opera rock dengan tajuk Ken Arok, yang konon terinspirasi dari cerita di majalah anak “Si Kuncung”. Analoginya, Ken Arok dibandingkan dengan rakyat jelata, Tunggul Ametung dengan pemerintahan Orde Baru, serta Kebo Jiro dengan mahasiswa yang dikambinghitamkan. Sebelum rilisan awal muncul “Opera Rock” menuai banyaknya perubahan melalu bebera penyesuaian, Seperti sindiran terhadap pemerintah dihaluskan, bahasanya yang terlalu vulgar dikurang, serta humor lokalnya dibuat lebih relevan dengan para calon pendengar.
Terlepas dari masalah kritik sosial yang dilontarkan oleh Harry Roesli (dengan gang-nya) melalui “Opera Rock” album ini membuat kami takjub akan lirik dan nuansa yang dibangun dialbum ini, membayangkan pada saat mendengarnya seperti kita dibawa kesebuah opera dengan nuansa jaman kerajaan Singhasari. Dengan kenakalan yang ditunjukan Ken Arok dalam album ini, seperti yang tertulis dalam liriknya Ken Arok sendiri seperti terbesit melalu imajinasi saat Ken Arok yang sedang menunggu sebuah keris yang telah lama ia pesan melalui Empu Gandring dan ulah Ken Arok yang sedang ingin bercinta dengan Ken Dedes pada saat opera dimulai tapi Ken Arok yang memilih untuk bercinta nanti saja kalau sudah dirumah karna adanya sebuah penonton, banyak hal lain yang ditunjukan pada “Opera Rock” ini yang membuat saya takjub karna tak banyak musisi yang menghadirkan suasana opera dalam sebuah album.
Kami pun baru menyadari ketika saya membeli CD yang di rilis oleh La Munai Records saat 2019 dan melihat press release di CDnya bahwa album ini berisikan sindiran terhadap pemerintahan di zaman Orde Baru namun dengan perubahan yang diberikan seperti sindiran, bahasa vulgar serta selera humor pada saat itu, mendengar album ini pun kami akan tetap takjub walau adanya perubahan yang diberikan pada “Opera Rock Ken Arok”. Tak terbayang sebelumnya jikalau kami hadir ketika album ini lahir bahkan mendapat kesempatan menonton “Rock Opera” melihat bagaimana penampil opera dan naskah yang terkandung serta melihat audiens pada saat opera dimulai, sedikit bingung untuk memilih lagu mana yang menjadi favorit kami untuk album ini karna seperti potongan opera musik yang dipotong potong per-part menjadi sebuah album.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar